Artikel
Rencana Nasdaq Buka Bursa AS 23 Jam, Volatilitas dan Saham AI Disorot

Rencana Nasdaq membuka perdagangan saham hampir 23 jam sehari menjadi salah satu isu paling panas di pasar keuangan global. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai terobosan besar yang akan mengubah cara investor dunia mengakses bursa saham Amerika Serikat.
Namun di sisi lain, pasar justru tengah diguncang oleh rontoknya saham infrastruktur AI di Wall Street, yang efeknya merembet cepat ke bursa Asia.
Kombinasi antara inovasi jam perdagangan, volatilitas pasar, dan ketidakpastian sektor teknologi membuat investor global berada di persimpangan: peluang besar atau risiko yang makin brutal?
Nasdaq Ajukan Perdagangan Saham 23 Jam ke SEC
Nasdaq resmi mengajukan izin kepada Securities and Exchange Commission (SEC) untuk memperpanjang jam perdagangan saham menjadi 23 jam per hari kerja (23/5). Jika disetujui, pasar saham AS yang selama ini aktif sekitar 16 jam (termasuk sesi pra dan pasca pasar) akan berubah drastis.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Globalisasi kepemilikan saham AS semakin nyata. Saham raksasa seperti Apple, Nvidia, Microsoft, hingga Tesla kini dimiliki investor dari Asia, Eropa, hingga Timur Tengah. Namun, perbedaan zona waktu kerap menjadi hambatan besar.
Nasdaq menilai investor global membutuhkan akses yang lebih adil, tanpa harus menunggu tengah malam atau begadang hanya demi merespons berita ekonomi Amerika.
"Tren globalisasi ini sudah berlangsung cukup lama dan kita telah melihat pasar AS sendiri menjadi jauh lebih global," kata Chuck Mack, wakil presiden senior pasar Amerika Utara di Nasdaq, kepada Reuters.
Menurut rencana, sistem perdagangan 23 jam ini ditargetkan mulai berlaku penuh pada paruh kedua tahun 2026, seiring kesiapan regulator dan infrastruktur keuangan.
Baca Juga: Banyak yang Salah Timing, Ini Momentum Investasi Cerdas Menjelang Akhir Tahun
Skema Perdagangan 23 Jam: Kenapa Tetap Ada Jeda 1 Jam?
Meski disebut hampir 24 jam, Nasdaq tetap menyisakan jeda satu jam setiap hari. Pasar akan ditutup sementara pada pukul 8–9 malam waktu New York.
Jeda ini bukan formalitas. Ia berfungsi sebagai “tombol reset” bagi sistem keuangan global.
Dalam skema baru:
- Sesi siang: pukul 4 pagi–8 malam (mencakup pra-pasar, reguler, dan pasca-pasar)
- Istirahat teknis: pukul 8–9 malam
- Sesi malam: pukul 9 malam–4 pagi hari berikutnya
Selama satu jam tersebut, sistem bursa dan lembaga kliring melakukan:
- Pemeliharaan sistem komputer
- Pengujian keamanan siber
- Penyelesaian dan verifikasi transaksi (kliring)
Tanpa jeda ini, risiko error sistem, kegagalan data, hingga gangguan kliring akan meningkat tajam karena mesin dipaksa bekerja tanpa henti.
Artinya, meski peluang terbuka nyaris 24 jam, pasar tetap membutuhkan waktu untuk “bernapas” demi menjaga stabilitas.
Peluang Besar Investor Global, Tapi Risiko Volatilitas Mengintai
Bagi investor global, terutama dari Asia, perdagangan 23 jam adalah game changer. Mereka tak lagi harus menunggu pembukaan pasar AS untuk merespons:
- Rilis data inflasi
- Keputusan suku bunga The Fed
- Laporan keuangan perusahaan teknologi
- Gejolak geopolitik mendadak
Akses yang lebih luas berpotensi meningkatkan likuiditas pasar saham AS.
Namun, bank-bank besar Wall Street justru menunjukkan kehati-hatian. Alasannya sederhana: likuiditas di jam “sunyi” jauh lebih tipis.
Pada jam-jam di luar sesi utama, jumlah pembeli dan penjual biasanya rendah. Akibatnya:
- Harga saham bisa melonjak atau anjlok tajam
- Pergerakan kecil transaksi bisa memicu fluktuasi besar
- Risiko volatilitas ekstrem meningkat, terutama bagi investor ritel
Pasar yang “tidak tidur” memang penuh peluang, tetapi juga menuntut manajemen risiko yang jauh lebih disiplin.
Baca Juga: Belajar Tips Investasi Saham dari Buku Joel Greenblatt
Badai Saham AI: Harapan Tinggi, Realitas Pahit
Di tengah euforia inovasi jam bursa, sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) justru menghadapi tekanan berat.
Saham-saham seperti Broadcom, Oracle, hingga CoreWeave terus tertekan. Masalah utamanya bukan permintaan, karena adopsi AI masih sangat kuat, melainkan biaya dan pembiayaan.
Perusahaan teknologi menggelontorkan:
- Belanja modal miliaran dolar
- Investasi pusat data skala besar
- Infrastruktur chip dan komputasi awan
Namun, return on investment (ROI) belum secepat ekspektasi pasar. Kekhawatiran akan:
- Tumpukan utang
- Beban bunga
- Margin laba yang tertekan, mendorong investor global melakukan sell-off sementara.
Tekanan di sektor AI AS bukan hanya soal saham yang turun. Ketika investor global mulai menarik dana, dampaknya tidak berhenti di Wall Street.
Efek Domino: Bursa Asia Ikut Tertekan
Gejolak di Wall Street langsung menjalar ke Asia seperti efek domino. Beberapa indeks utama mencatat penurunan signifikan:
- Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan
- Nikkei Jepang ikut terkoreksi
- Hang Seng Hong Kong tertekan
- ASX Australia bergerak melemah
Alasannya sangat struktural. Banyak perusahaan Asia adalah bagian penting dari rantai pasok global teknologi AS, terutama di sektor:
- Semikonduktor
- Produsen chip
- Komponen pusat data
- Infrastruktur cloud
Ketika prospek sektor teknologi AS memburuk, investor Asia otomatis khawatir:
- Pesanan menurun
- Pendapatan tertekan
- Margin laba menyusut
Terjadi rotasi modal, di mana dana keluar dari saham AI dan teknologi menuju aset yang dianggap lebih aman.
Baca Juga: BEI Terapkan Non-Cancellation Period (NCP), Jurus Kuat Lindungi Investor
Infrastruktur dan Kliring Jadi Penentu Sukses
Mewujudkan perdagangan saham hampir 24 jam bukan perkara mudah. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan:
- U.S. Depository Trust and Clearing Corp (DTCC)
- Sistem kliring dan penyelesaian real-time
- Prosesor informasi sekuritas
- Sistem keamanan siber tingkat tinggi
DTCC dijadwalkan baru akan meluncurkan kliring tanpa henti pada akhir 2026. Artinya, transisi ini adalah salah satu transformasi teknologi finansial terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Nasdaq sendiri menegaskan bahwa seluruh ekosistem, bursa, broker, bank kustodian, hingga regulator—harus bergerak serempak agar sistem 23 jam berjalan aman dan efisien.
Pasar Tidak Pernah Tidur, Risiko Juga Tidak
Rencana Nasdaq membuka perdagangan saham 23 jam menjadi simbol pasar modal modern yang makin global dan tanpa batas. Akses lebih luas memang membuka peluang luar biasa, terutama bagi investor di luar AS.
Namun, bersamaan dengan itu, muncul tantangan besar:
- Volatilitas lebih tinggi
- Likuiditas tidak merata
- Tekanan psikologis investor
- Risiko keputusan impulsif
Di saat yang sama, koreksi saham AI menjadi pengingat keras bahwa inovasi teknologi tidak selalu sejalan dengan keuntungan jangka pendek.
Pasar yang tidak pernah tidur menuntut investor untuk:
- Lebih disiplin
- Lebih teredukasi
- Lebih sadar risiko
Bukan sekadar ikut arus saat euforia, atau panik ketika pasar bergejolak. Menurutmu, apakah perdagangan saham 23 jam ini akan membuka peluang emas, atau justru membuat investor makin stres karena pasar tak pernah berhenti bergerak?
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan saran jual atau beli investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi dan harus disesuaikan dengan tujuan serta profil risiko masing-masing investor.