Artikel
Penangkapan Presiden Maduro oleh AS dan Perebutan Minyak Venezuela

Dunia geopolitik kembali diguncang. Awal 2026 menjadi titik balik dramatis bagi Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Negeri yang berdiri di atas “lautan emas hitam” itu kembali menjadi pusat perhatian global setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap dalam sebuah operasi militer kilat yang dikonfirmasi langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar politik luar negeri. Ini adalah babak baru perebutan energi global, yang melibatkan Amerika Serikat, China, Rusia, serta kepentingan strategis ratusan miliar barel minyak.
Harta Karun yang Berubah Menjadi Kutukan
Secara data, Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Angkanya mencapai 303 miliar barel, atau setara sekitar Rp387.840 triliun. Jumlah ini bahkan melampaui Arab Saudi dengan 267 miliar barel dan Iran dengan 208 miliar barel.
Namun alih-alih menjadi berkah, kekayaan tersebut justru menjelma menjadi kutukan ekonomi. Venezuela terlalu bergantung pada satu sumber pemasukan. Sekitar 96% pendapatan negara hanya berasal dari minyak. Ketika harga minyak dunia jatuh, seluruh fondasi ekonomi ikut runtuh.
Ibarat sebuah toko yang hanya menjual satu jenis barang, saat harga barang tersebut anjlok di pasar global, kebangkrutan menjadi keniscayaan.
Masalah ini diperparah oleh pengelolaan perusahaan minyak negara, PDVSA, yang sejak lama tidak dijalankan secara profesional.
Baca Juga: Apakah Investasi NFT dan Crypto Perlu Laporkan di SPT?
Politisasi PDVSA dan Awal Kehancuran
Mengelola industri minyak bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi soal teknologi, manajemen, dan keahlian. Namun di Venezuela, PDVSA justru dikelola secara monopoli oleh elite politik.
Jabatan strategis diberikan berdasarkan kesetiaan, bukan kompetensi. Dampaknya fatal:
- Korupsi dan nepotisme merajalela
- Pemeliharaan kilang diabaikan
- Dana operasional dialihkan untuk kepentingan politik
Akibatnya, teknologi tidak diperbarui dan tenaga profesional hengkang. Kilang-kilang minyak berubah menjadi “besi tua” yang tak lagi produktif.
Data produksi mencerminkan kehancuran ini. Pada 1970, Venezuela memproduksi 3,5 juta barel per hari, setara 7% suplai minyak dunia. Tahun 2010, produksinya turun menjadi 2 juta barel per hari. Pada 2025, angka itu anjlok drastis, hanya 1 juta barel per hari, atau sekitar 1% suplai global.
Dunia Terhenyak: Penangkapan Presiden Venezuela
Negara dengan cadangan minyak terbesar dunia bisa jatuh miskin, hancur secara ekonomi, bahkan presidennya ditangkap oleh negara lain. Ini bukan skenario film, melainkan kenyataan pahit Venezuela di awal 2026.
Pada Minggu, 3 Januari 2026, dunia dikejutkan oleh pernyataan Donald Trump melalui Truth Social. Ia mengonfirmasi bahwa pasukan elit Delta Force telah menyerbu kediaman Presiden Nicolas Maduro.
Dunia menyaksikan bagaimana Maduro ditangkap hanya dalam hitungan jam. Operasi tersebut berlangsung sekitar dua jam. Maduro dan istrinya ditangkap tanpa perlawanan dan langsung diterbangkan keluar dari Venezuela.
Amerika Serikat menggunakan dasar hukum dakwaan Narco-Terrorism tahun 2020, dengan imbalan penangkapan sebesar USD 15 juta.
Alasan Resmi Amerika Serikat
Mengapa AS berani melakukan aksi se-ekstrem ini? Berdasarkan dokumen U.S. Treasury, terdapat beberapa alasan utama.
Pertama, restorasi demokrasi. AS menilai pemilu Venezuela tahun 2018 dan 2024 tidak sah, sehingga penangkapan Maduro dianggap sebagai bentuk “pembebasan rakyat”.
Kedua, krisis migrasi. Sebanyak 7,7 juta pengungsi Venezuela dianggap sebagai beban keamanan nasional bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Ketiga, tuduhan Narco-State. Lingkaran dalam Maduro dituduh menjalankan Cartel of the Suns, yang dituding membanjiri AS dengan narkoba.
Tekanan ini bukan hal baru. Sejak 2015, AS telah menetapkan Venezuela sebagai ancaman keamanan nasional. Pada 2017, Venezuela dilarang mengakses pendanaan global. Tahun 2019, hubungan diplomatik diputus dan embargo total diberlakukan. Pada 2020, dakwaan kriminal terhadap Maduro resmi diajukan.
Baca Juga: Era Baru Pasar Modal Saudi, Semua Investor Asing Bisa Masuk Mulai 2026
Motif Tersembunyi: Minyak dan Dominasi Energi
Tak lama setelah penangkapan, Donald Trump menyatakan akan mengirim “perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar” untuk mengelola kilang Venezuela. Nama seperti Exxon dan Chevron langsung disebut-sebut.
Namun banyak pihak meyakini, alasan sebenarnya jauh lebih strategis. Kementerian Luar Negeri Venezuela menyebut ada niat tersembunyi di balik operasi tersebut.
Cadangan 303 miliar barel minyak Venezuela dinilai terlalu strategis untuk dibiarkan jatuh ke tangan China dan Rusia.
Sejak 2023, rezim Maduro memang mempererat hubungan dengan China. Bahkan, beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro diketahui bertemu dengan utusan khusus Presiden Xi Jinping, Qiu Xiaoqi. Bagi Washington, ini adalah alarm geopolitik.
Guncangan Bagi China dan Rusia
Penangkapan Maduro bukan hanya masalah Venezuela. Ini adalah pukulan langsung terhadap kepentingan blok BRICS.
China dan Rusia telah menyalurkan pinjaman miliaran dolar kepada Venezuela dengan skema pembayaran minyak. Ketika AS mengambil alih ladang minyak, jaminan tersebut praktis lenyap.
Lebih dari itu, posisi tawar China dan Rusia di Amerika Latin ikut runtuh. Trump bahkan mulai melontarkan peringatan ke Meksiko dan Kolombia pada 4 Januari 2026, mengirim pesan tegas bahwa dominasi energi AS tidak bisa ditawar.
Pasar Saham: Euforia dan Ketakutan Global
Reaksi pasar keuangan berlangsung ekstrem. Indeks bursa saham Venezuela melonjak 160% dalam sebulan, bahkan naik 72,4% hanya dalam dua hari pasca penangkapan Maduro.
Lonjakan ini dipicu ekspektasi masuknya modal Amerika Serikat dan pemulihan ekonomi.
Namun di sisi lain, pasar global justru bersikap risk-off. Aset berisiko seperti saham global dan kripto menghadapi tekanan. Emas diprediksi terus menguat dan mendekati rekor harga baru karena dianggap sebagai aset lindung nilai paling aman.
Baca Juga: Tekanan Delisting BUMN Menguat, Restrukturisasi Dinilai Tak Bisa Ditunda
Strategi Smart Money: Bertahan dan Berlindung
Investor besar tidak melihat peristiwa ini sebagai drama politik semata. Mereka membaca sinyal bahaya.
Strategi utama yang ditempuh adalah hedging. Emas dan perak diborong. Alasannya bukan hanya risiko perang, tetapi juga potensi inflasi dolar jika AS mencetak uang untuk membiayai operasi geopolitiknya.
Ada pula kekhawatiran bahwa China akan melakukan dumping surat utang AS senilai USD 688 miliar sebagai bentuk balasan.
Pesan besarnya jelas: jangan menaruh seluruh aset pada satu mata uang atau satu instrumen. Ketika “Elang” dan “Naga” bertarung, volatilitas bisa menjadi peluang sekaligus bencana.
Luka Lama Venezuela: Hiperinflasi dan Eksodus Massal
Jauh sebelum penangkapan Maduro, Venezuela sudah lebih dulu runtuh dari dalam. Pada 2014, harga minyak dunia anjlok. Pemerintah menutup defisit dengan mencetak uang besar-besaran, memicu hiperinflasi ekstrem.
Pada 2018, harga susu dan obat-obatan melonjak jutaan kali lipat. Rakyat harus membawa berkarung-karung uang hanya untuk membeli roti.
Berdasarkan laporan PBB, 80% rakyat Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan. Sejak 2015, sekitar 7,7 juta orang hampir seperempat populasi, melarikan diri ke luar negeri. Ini menjadi krisis pengungsi terbesar di dunia di luar zona perang.
Penutup
Venezuela bukan sekadar cerita tentang minyak. Ini adalah kisah tentang siapa yang memegang kendali.
Saat sebuah negara rapuh, kekuatan besar tidak datang untuk menolong, melainkan untuk mengatur arah permainan. Kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin kemakmuran tanpa tata kelola yang profesional dan stabilitas geopolitik.
Dalam hitungan tahun, negara dengan cadangan minyak terbesar dunia bisa runtuh: rakyatnya pernah kelaparan, presidennya ditangkap, dan masa depannya ditentukan kekuatan asing.
Pertanyaannya kini: apakah dampak perebutan minyak Venezuela akan merembet ke negara lain, termasuk Indonesia?