Artikel
Banyak yang Salah Timing, Ini Momentum Investasi Cerdas Menjelang Akhir Tahun

Akhir tahun kerap dianggap sebagai periode “mati suri” bagi aktivitas investasi. Banyak pelaku pasar memilih menahan diri, menunggu kepastian arah ekonomi global dan domestik sebelum kembali agresif di awal tahun.
Namun di balik sikap wait and see tersebut, tersimpan momentum strategis yang justru sering luput dari perhatian investor ritel.
Menjelang penutupan tahun 2025, sejumlah instrumen investasi diproyeksikan bergerak stagnan. Kondisi ini bukan selalu kabar buruk.
Bagi investor yang memahami siklus pasar, fase stagnasi justru bisa menjadi pintu masuk yang rasional dan terukur untuk mulai membangun portofolio jangka panjang.
Akhir Tahun, Momen Evaluasi dan Awal Strategi Baru
Secara historis, penghujung tahun merupakan fase refleksi finansial. Investor mengevaluasi kinerja aset, menata ulang tujuan keuangan, sekaligus menyiapkan strategi investasi tahun berikutnya.
Dalam konteks ini, keputusan investasi tidak lagi bersifat spekulatif, melainkan lebih rasional dan berbasis perencanaan.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai bahwa akhir tahun 2025 menjadi fase di mana pergerakan sejumlah aset utama cenderung datar, khususnya emas dan saham. Stagnasi ini dipicu oleh minimnya transaksi global selama periode libur panjang.
"Bukan Indonesia saja, hampir semua negara ya. Pada saat memasuki Natal dan Tahun Baru, mereka tidak melakukan transaksi, ya mereka gunakan waktu libur," kata Ibrahim, dikutip dari detikcom, Jumat (19/12/2025).
Kondisi tersebut menciptakan pasar yang relatif tenang, tanpa lonjakan volatilitas ekstrem. Bagi investor jangka panjang, situasi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi aset secara bertahap.
Baca Juga: Tips Investasi untuk Generasi 20-an yang Baru Mulai Kelola Keuangan
Fenomena Wait and See Investor Global
Menjelang Natal dan Tahun Baru, pelaku pasar global, khususnya institusi besar, cenderung menahan aktivitas jual beli. Fokus mereka beralih ke penutupan buku dan evaluasi kinerja tahunan. Akibatnya, likuiditas pasar menurun dan harga aset bergerak terbatas.
"Memang mendekati di tanggal 25 sampai tanggal 30, ya sampai akhir tahun. Itu biasa wait and see. Misalnya saya melihat harga emas dunia pun juga gitu-gitu saja," jelas Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa emas dunia telah mencapai titik tertinggi pada Oktober 2025 dan relatif sulit menembus level baru dalam waktu dekat.
"Harga tertinggi itu cuma hanya di US$ 4.381 per troy ounce, itu pun di bulan Oktober. Untuk mencapai level di atas US$ 4.381, anggaplah di US$ 4.400 sangat sulit sekali karena minggu depan itu nanti sudah flat. Jadi masa ini sudah flat," terangnya.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa akhir tahun bukan fase lonjakan, melainkan fase konsolidasi.
Stagnan Bukan Berarti Buruk
Banyak investor pemula keliru menafsirkan stagnasi sebagai sinyal negatif. Padahal, harga yang bergerak datar memberi ruang bagi investor untuk masuk tanpa tekanan psikologis akibat fluktuasi tajam.
Dalam strategi investasi modern, membeli aset saat volatilitas rendah sering dianggap lebih aman dibandingkan masuk di puncak euforia.
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga menilai bahwa emas dan saham telah mencapai batas pergerakan tahunannya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tidak ada momentum yang benar-benar pasti dalam dunia investasi.
"Nggak ada sesuatu yang pasti. Kalau nggak, tiap tahun ada sekali Desember, kalau itu memang sesuatu yang pasti, ya semua orang nunggu Desember saja untuk investasi daripada susah-susah, capek-capek," ujar Lukman.
Risiko Saham Tetap Perlu Diantisipasi
Berbeda dengan emas yang cenderung defensif, saham memiliki karakter risiko yang lebih kompleks.
Kinerja saham sangat bergantung pada fundamental perusahaan, kondisi makroekonomi, serta dinamika geopolitik global.
Lukman menegaskan bahwa valuasi dan sentimen global menjadi faktor utama yang menentukan arah saham ke depan.
"Saham itu intinya kan orang menghitung dari valuasi gitu kan, pertama. Kedua juga sangat tergantung sama geopolitik, dan keadaan belakangnya geopolitik bukannya normal, mendingin, malah memanas gitu. Jadi resikonya sangat besar ya," tegasnya.
Artinya, meskipun akhir tahun terlihat tenang, investor tetap perlu melakukan analisis mendalam sebelum masuk ke pasar saham.
Baca Juga: Apakah Investasi NFT dan Crypto Perlu Laporkan di SPT?
Timing Investasi Bukan Soal Tanggal
Salah satu kesalahan paling umum investor adalah menganggap waktu terbaik investasi ditentukan oleh tanggal atau bulan tertentu.
Padahal, timing yang tepat lebih ditentukan oleh kesiapan finansial, tujuan investasi, dan mental menghadapi risiko.
Memiliki dana darurat yang memadai, memahami profil risiko, serta tujuan jangka panjang adalah fondasi utama sebelum masuk ke pasar modal. Tanpa itu, investasi berpotensi berubah menjadi spekulasi.
Volatilitas sebagai Peluang, Bukan Ancaman
Dalam dunia investasi saham, volatilitas sering dipandang sebagai momok. Namun bagi investor berpengalaman, fluktuasi justru membuka peluang membeli saham berkualitas dengan harga diskon.
Strategi seperti dollar-cost averaging, menanam modal secara rutin dalam jumlah tetap, membantu investor mengurangi risiko salah timing sekaligus membangun portofolio secara konsisten.
Pendekatan ini relevan diterapkan menjelang akhir tahun ketika harga cenderung stagnan dan tekanan emosional pasar relatif rendah.
Mental dan Disiplin Jadi Penentu Utama
Tak kalah penting, faktor psikologis sering kali menjadi penentu keberhasilan investasi. Ketika pasar bergerak turun, investor yang tidak siap mental cenderung panik dan menjual aset di waktu yang tidak tepat.
Sebaliknya, investor yang disiplin dan berpikir jangka panjang mampu memanfaatkan koreksi sebagai peluang.
Investasi bukan perlombaan cepat, melainkan maraton yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Mulai Kecil, Tapi Konsisten
Banyak orang menunda investasi karena merasa modalnya belum cukup besar. Padahal, kemajuan teknologi finansial memungkinkan siapa pun memulai investasi dengan dana minim.
Konsistensi jauh lebih penting daripada besarnya modal awal. Dengan perencanaan yang matang, akumulasi aset kecil secara rutin dapat tumbuh signifikan dalam jangka panjang.
Akhir Tahun: Diam-Diam Waktu yang Tepat
Alih-alih menunggu “momen sempurna” yang tidak pernah pasti, akhir tahun justru bisa menjadi waktu ideal untuk mulai investasi dengan tenang dan terukur.
Pasar yang relatif stabil memberi ruang bagi investor untuk mengambil keputusan rasional tanpa tekanan euforia atau kepanikan.
Dengan memahami kondisi pasar, risiko instrumen, serta kesiapan pribadi, investor dapat menjadikan akhir tahun sebagai pijakan awal membangun kekayaan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, timing terbaik bukan ditentukan oleh kalender, melainkan oleh kesiapan strategi dan disiplin dalam menjalankannya.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan saran jual, beli (investasi). Keputusan investasi yang kamu ambil harus didasarkan pada analisis dan profil risiko pribadi kamu.