Loading...
0%
Artikel

FYPMedia.id - Pergerakan bursa Asia 21 September 2026 menjadi perhatian investor pada awal pekan setelah sejumlah indeks saham kawasan bergerak menguat, sementara sebagian lainnya masih berada di zona merah.
Pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global sekaligus menunggu agenda penting berupa pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id dan CNBC Indonesia, pada perdagangan Senin (21/9/2026), pasar saham Asia bergerak bervariasi. Pukul 08.18 WIB, indeks Kospi Korea Selatan tercatat naik 101,54 poin atau 1,49% menjadi 6.696,94. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia turun 13,27 poin atau 0,15% ke level 8.717,90.
Pergerakan serupa juga terlihat di sejumlah pasar Asia lainnya. Indeks Straits Times Singapura naik 4,35 poin atau 0,08% menjadi 5.661. Di sisi lain, FTSE Malaysia melemah 3,71 poin atau 0,21% ke 1.662,10.
Indeks MSCI Asia Pasifik juga tercatat naik sekitar 0,2%, dengan saham-saham Korea Selatan menjadi salah satu pendorong utama pergerakan indeks kawasan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih melakukan penyesuaian posisi sambil menunggu perkembangan dari sejumlah agenda ekonomi dan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar global.
Salah satu perhatian utama pasar pada pekan ini adalah perkembangan hubungan ekonomi antara AS dan China. Investor menunggu hasil pertemuan Trump dan Xi untuk melihat apakah terdapat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia tersebut.
Agenda tersebut dinilai penting karena hubungan perdagangan AS-China dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari manufaktur dan teknologi hingga komoditas dan rantai pasok global.
Sebelum pertemuan tingkat kepala negara berlangsung, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembicaraan awal antara kedua negara.
Pembicaraan itu dilaporkan mencakup sejumlah isu strategis, termasuk perdagangan, investasi, serta perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Bessent menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai pertemuan yang sangat sukses. Fokus pembicaraan mencakup AI, perdagangan dan investasi.
Pertemuan tersebut menjadi perhatian investor karena hasil pembicaraan tingkat pejabat dapat memberikan gambaran awal mengenai arah hubungan ekonomi Washington dan Beijing sebelum Trump dan Xi bertemu.
Sejumlah kebijakan perdagangan kedua negara juga masih menjadi perhatian pasar. AS dan China sebelumnya telah berupaya mengurangi bea masuk terhadap sejumlah produk, termasuk komoditas energi dan produk pertanian.
Baca Juga: https://fypmedia.id/tips-finansial-untuk-karyawan-agar-cepat-mencapai-target-tabungan
Meski pertemuan Trump dan Xi menjadi agenda penting, pelaku pasar tidak serta-merta memperkirakan akan terjadi perubahan besar dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Ahli strategi Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso menilai pertemuan tingkat tinggi tersebut kemungkinan lebih berfungsi untuk menjaga stabilitas hubungan antara Washington dan Beijing.
"Pertemuan puncak tersebut kemungkinan besar hanya akan menjaga agar hubungan mereka tetap stabil," menurut ahli strategi Commonwealth Bank of Ausralia Joseph Capurso.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pasar dapat lebih memperhatikan kesinambungan kesepakatan yang sudah ada dibandingkan mengharapkan perubahan kebijakan secara drastis.
Analis utama Asia Pasifik untuk eToro Josh Golbert juga menyampaikan pandangan serupa mengenai kemungkinan hasil pertemuan kedua pemimpin negara tersebut.
"Namun jangan terlalu berhadap banyak kejutan, karena fokusnya kemungkian besar adalahperpanjangan gencatan senjata perdagangan kata Josh Golbert analis utama Asia Pasifik untuk eToro.
Dengan demikian, investor akan mencermati apakah pertemuan tersebut menghasilkan perpanjangan kesepakatan perdagangan, perubahan tarif, atau perkembangan baru dalam isu strategis lainnya.
Di tengah penantian terhadap agenda AS-China, saham Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang menunjukkan penguatan paling terlihat pada awal perdagangan.
Kospi naik 0,85% saat pembukaan berdasarkan data perdagangan awal, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq meningkat 0,43%.
Dalam perkembangan selanjutnya pada pukul 08.18 WIB, Kospi tercatat menguat 1,49% ke 6.696,94.
Penguatan saham Korea Selatan menjadi salah satu faktor yang mendorong indeks MSCI Asia Pasifik naik sekitar 0,2%.
Namun, kondisi pasar Asia tidak sepenuhnya berada dalam tren positif. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 justru melemah pada awal perdagangan. Jepang juga tidak mencatatkan perdagangan saham pada hari tersebut karena pasar sedang libur nasional.
Perbedaan arah tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar tetap merespons kondisi domestik masing-masing negara di samping faktor global.
Baca Juga: https://fypmedia.id/dari-fuzhou-ke-beijing-david-wijaya-menatap-masa-depan-indonesia
Selain perkembangan hubungan AS-China, kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar.
Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena dilakukan ketika inflasi AS masih menghadapi tekanan untuk turun dan imbal hasil obligasi pemerintah berada pada level tinggi.
Kondisi suku bunga AS memiliki pengaruh luas terhadap pasar keuangan global. Perubahan kebijakan The Fed dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, imbal hasil obligasi, serta valuasi saham di berbagai negara.
Investor Asia juga mencermati kondisi tersebut karena suku bunga AS yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang.
Selain kebijakan moneter, harga energi menjadi faktor lain yang diperhatikan pasar. Harga minyak berada di sekitar US$100 per barel, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di dekat level 5%.
Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi yang tinggi dapat memengaruhi keputusan investor dalam menentukan alokasi dana antara saham dan instrumen pendapatan tetap.
Kenaikan harga energi juga berkaitan dengan perkembangan geopolitik global. Ketegangan geopolitik dapat mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian bagi bank sentral karena kenaikan harga energi dapat membuat inflasi lebih sulit kembali ke sasaran.
Ekonom Kepala LPL Financial Jeffrey Roach mengatakan konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish.
Menurut dia, kondisi tersebut juga memberikan tekanan terhadap sektor penyulingan minyak China.
Roach menilai komite yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh telah menjadikan stabilisasi pasar minyak sebagai salah satu dasar dalam proyeksi inflasi. Di sisi lain, perkembangan harga minyak juga turut memengaruhi perhitungan fiskal pemerintah China.
Keterkaitan antara minyak, inflasi, dan kebijakan moneter membuat investor harus memperhatikan perkembangan pasar komoditas bersamaan dengan agenda perdagangan AS-China.
Jika harga energi bertahan tinggi, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, penurunan tekanan harga energi dapat memberikan ruang lebih besar bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Pertemuan Trump dan Xi juga tidak hanya berkaitan dengan tarif perdagangan. Sejumlah isu strategis lain diperkirakan menjadi bagian dari pembahasan kedua negara.
Salah satunya adalah mineral kritis yang memiliki peran penting bagi industri teknologi, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan manufaktur.
China memiliki posisi penting dalam rantai pasok berbagai mineral dan bahan baku strategis. Sementara itu, AS berupaya memperkuat ketahanan rantai pasok untuk sejumlah kebutuhan industri strategis.
AI juga menjadi salah satu isu yang semakin penting dalam hubungan ekonomi kedua negara. Persaingan teknologi antara AS dan China telah berkembang menjadi bagian dari hubungan perdagangan dan investasi yang lebih luas.
Karena itu, setiap perkembangan mengenai pembatasan teknologi, investasi, maupun kerja sama AI dapat menjadi perhatian investor.
Pembicaraan mengenai AI juga sebelumnya telah masuk dalam agenda pertemuan Scott Bessent dan He Lifeng. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara kini tidak hanya berkaitan dengan barang konvensional, tetapi juga teknologi strategis.
Baca Juga: https://fypmedia.id/rekor-baru-populasi-lansia-100-tahun-di-jepang-tembus-100-ribu-jiwa
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan bursa Asia 21 September 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen perdagangan, kebijakan moneter, harga komoditas, dan perkembangan geopolitik.
Pertemuan Trump dan Xi menjadi salah satu agenda utama yang akan dicermati investor sepanjang pekan. Pasar akan melihat apakah pertemuan tersebut menghasilkan perkembangan yang dapat menjaga hubungan perdagangan tetap stabil atau justru membuka persoalan baru.
Pada saat yang sama, investor tetap harus memperhatikan arah kebijakan The Fed serta perkembangan inflasi dan harga energi.
Tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak di sekitar US$100 per barel menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar secara bersamaan.
Di Asia, dampaknya dapat berbeda-beda karena setiap negara memiliki kondisi ekonomi, kebijakan moneter, serta eksposur perdagangan yang berbeda terhadap AS dan China.
Dengan kondisi tersebut, penguatan sejumlah indeks Asia pada awal perdagangan belum sepenuhnya menunjukkan arah pasar untuk keseluruhan pekan. Investor masih akan menunggu perkembangan dari sejumlah agenda besar yang dapat memengaruhi sentimen global.
Pertemuan AS-China menjadi salah satu faktor paling penting karena kebijakan perdagangan kedua negara dapat berdampak terhadap rantai pasok, investasi, komoditas, dan sektor teknologi.
Sementara itu, harga minyak dan imbal hasil obligasi AS akan tetap menjadi indikator penting bagi investor untuk melihat tekanan inflasi serta kemungkinan arah kebijakan moneter berikutnya.
Pada akhirnya, pergerakan bursa Asia 21 September 2026 berlangsung di tengah kombinasi sentimen positif dan tekanan eksternal. Penguatan Kospi dan kenaikan MSCI Asia Pasifik menunjukkan adanya optimisme terbatas, tetapi pelemahan sejumlah indeks lainnya memperlihatkan bahwa investor masih berhati-hati.
Hasil pertemuan Trump dan Xi, perkembangan tarif dan mineral kritis, pembahasan AI, serta arah harga energi akan menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan sentimen pasar berikutnya.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 19 September 2026 pukul 11:42:59 WIB
Terbit 18 September 2026 pukul 11:39:45 WIB
Terbit 18 September 2026 pukul 11:13:29 WIB
Terbit 16 September 2026 pukul 11:02:36 WIB
Terbit 15 September 2026 pukul 15:40:22 WIB
Terbit 14 September 2026 pukul 18:51:48 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...